Kamis, 12 Februari 2015


Alhamdulillah, setelah melalui beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk menulis suatu blog. Semoga dengan blog ini saya bisa menyalurkan filsafat pemikiran-pemikiran saya selama masa kuliah. Untuk postingan pertama saya coba mengposting cerpen saya beberapa bulan lalu. Yah, meski tidak ada esensinya dan tentu saja tidak patut untuk ditiru dirumah :) . Beberapa ide juga terinspirasi dari salah satu anime Durarara! jika kalian tahu. Dan tentu saja mendapat banyak bantuan dan pendapat dari salah seorang sahabat juga Guru Bahasa Indonesia saya. Oke, selamat membaca, :)




Putih

            Aku masih di sini. Terbaring tak berdaya di atas tempat tidur yang dikelilingi korden berwarna putih bersih. Memperhatikan setiap tetes cairan yang entah terbuat dari apa, lamat-lamat mengalir melewati selang kecil menuju ke pembuluh di pergelangan tanganku. Tak tahu pula untuk apa cairan ini dimasukkan ke dalam tubuhku. Apakah memang luka di kakiku ini mereka anggap terlalu parah atau sebab aku hanya diam ketika para suster itu menawari aku makan.
            Dan setiap tetesan di kantung kecil itu seperti meneteskan pula rasa yang terkadang membuat mataku mengawang sejenak. Dan hal ini terus saja terjadi. Entah di saat aku sendirian atau ketika suster yang menatapku iba itu menemaniku di sini sambil menanyakan hal-hal yang sama sekali tak menghiburku.
            Seseorang menyingkap korden. Suster itu datang lagi. Tapi aku tak peduli. Apa yang sebenarnya kini kupedulikan pun sepertinya tak ada, tak pasti lebih tepatnya.  Tidak seperti biasa, dia tak mengajakku bicara. Tangannya yang lembut hanya membelai rambutku yang terurai berantakan sembari tersenyum. Mungkin aku seharusnya berterima kasih padanya, sebab dia yang selalu merawatku di sini.
Tiba-tiba seorang dokter masuk ke kamarku. Dari suaranya kukira dia bukanlah dokter yang pertama kali mengobatiku kemarin.
            “Dia masih tak mau makan,” kata suster itu.
            “Kau tahu kejadiannya seperti apa?” tanya dokter.
            “Seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor yang menabraknya. Menurut orang-orang, gadis ini tiba-tiba menyeberang tanpa melihat kondisi jalanan. Kemarin lusa, menurut pemeriksaan kakinya hanya memar dan terjadi sedikit pendarahan. Tapi aneh, tadi pagi baru ditemukan kalau pergelangan kakinya retak,” jawab suster.”Sejak tersadar di sini dia hanya berbaring dan tak mau bicara. Sehingga orang tua atau kerabatnya tak ada yang bisa kami hubungi.”
            “Apa ada indikasi cidera otak?”
            “Tidak. Mungkin hanya gangguan mental. Aku pun sudah mencoba mengajaknya bicara berulang kali. Tapi dia selalu diam.
            Terdengar dokter muda itu menghela nafas, lantas meninggalkan kamarku, kamar kami lebih tepatnya. Tak hanya aku yang terkulai lemah di atas ranjang beroda di ruangan ini. Mengingat langit-langit yang seringkali kupandang begitu luas, mungkin ada tujuh atau sepuluh pasien di sini. Semuanya, dengan ranjang yang putih, selimut putih, dan korden yang putih pula.
            Ya, semuanya bermula ketika aku tiba di kota ini. Aku hanyalah gadis biasa. Hidupku pun sehari-hari hanya dipenuhi hal-hal yang biasa dilakukan seorang perempuan pada umumnya. Terbelenggu oleh nilai dan norma yang aku tahu diciptakan manusia hanya untuk menyalahkan orang yang tidak mereka sukai! Bahkan mereka sendiri sebenarnya telah melanggarnya pula! Oleh karena itu, setiap kali mereka mengajariku tentang nilai dan norma aku anggap itu hanya sebuah sandiwara yang menjijikkan. Sebab itulah aku datang ke kota ini, untuk mencari satu hal, sekaligus membebaskan diri dari banyak hal.
***
            Suara kereta api bergema di langit, setelah beberapa menit aku turun di stasiun ini.
“Apakah aku bisa menemukannya di sini, Pak?” tanyaku. Petugas stasiun yang menjaga pintu keluar itu sejenak heran mendengar pertanyaanku. Tapi setelah kuceritakan, dia tertawa kecil.
            “Kau bisa menemukannya dimana saja, apalagi di kota ini,” dia berkelakar.
            “Terima kasih, Pak,” aku tersenyum puas sambil mengungkapkan terima kasih banyak-banyak ke bapak berkumis baplang itu.
Aku segera berlari keluar stasiun. Sekilas kutatap langit yang indah dengan awan-awan gembul yang terlihat diam, walau aku tahu sebenarnya sedang berarak perlahan. Jalan raya begitu ramai. Dan berbagai bangunan dari kios hingga gedung bertingkat terlihat berjejal di sana-sini. Akhirnya aku melewati batas yang selama ini membatasi hidupku dari luasnya dunia!
Kutarik nafasku dalam-dalam. Ada bau harum yang menarik hidungku. Aku berhenti dan menatap sekitar. Ada penjual harum manis, gumpalan kapas berwarna merah jambu yang terasa legit jika kau menggigitnya. Penjualnya sedikit kurus, pakaiannya tampak kumal. Aku berjalan ke arah lain, menarik nafas kembali. Ada bau harum tercium lagi. Ternyata berasal dari seorang gadis yang kebetulan lewat di hadapanku. Kemanakah ia akan pergi di sore ini dengan baju modis seperti itu? Apakah menemui seseorang?
Sebuah bau lagi-lagi lewat di hidungku. Tapi bau ini begitu sengak dan tak enak. Bau asap kendaraan bercampur dengan debu udara rupanya. Mungkin bau ini yang menyebabkan tukang parkir di sana itu selalu memakai masker setiap saat. Mungkin pula bau ini yang membuat gadis berbaju modis berpikir harus memakai wewangian banyak-banyak sebelum dia keluar.
            Aku turun dari trotoar hendak menyeberang jalan. Dan ketika ada sebuah benda keras yang menghantam tubuhku semuanya menjadi gelap.
***
            Lampu dinyalakan, pertanda malam tiba. Kugerakkan bola mataku, kusadari salah satu ranjang di depanku telah sepi. Kosong. Tak ada pasien berikut kerabatnya lagi di sana seperti kemarin. Mungkin sudah sembuh, diperbolehkan pulang. Senangkah ia sudah bisa meninggalkan ruangan serba putih ini? Atau mungkin, dia sudah menghilang? Jika ya, senangkah dia di alam sana?
            “Kau tak ingin jalan-jalan keluar?” suster itu muncul dengan sebuah kursi roda. Seperti biasa aku diam. Melihatku dia hanya mendekat lantas mengelus kaki kiriku yang terbalut benda keras berwarna putih.
“Mau kan?“ katanya lagi.
Perlahan dia memapah tubuhku, seolah aku telah mengangguk, lalu mendudukkanku di kursi roda. Aneh, untuk seorang suster mengajak pasiennya jalan-jalan di antara dinginnya malam. Suster itu membawaku keluar ruangan dan mengantarku berikut infusku menyusuri lorong mengelilingi taman luas di tengah rumah sakit.
            Kuperhatikan taman berlapiskan rumput yang dihiasi berbagai semak dan perdu itu. Disana-sini tumbuh bunga kaca piring yang sedang bermekaran layaknya mawar. Di tengahnya ada sebuah air mancur kecil yang airnya jernih berkilat-kilat. Suara percikannya beradu dengan bunyi detik jam dinding entah dari mana. Selebihnya sepi, meski sebenarnya penuh hiruk-pikuk. Di pojok kantin sana beberapa pegawai rumah sakit sedang bercakap-cakap ditemani kopinya masing-masing. Ada juga beberapa keluarga yang membeber karpet kecil di berbagai sisi lorong. Sebagian tampak bersenda gurau. Padahal bukankah mereka sedang menunggui saudara mereka yang tengah merasakan sakit di sini?
Di sebuah kursi panjang, ada dua orang, laki perempuan. Barangkali kebetulan bertemu di sini. Atau malah sengaja memilih tempat ini untuk memadu kasih? Tak tahu. Bunga kaca piring yang biasanya tak mengudarkan harum hanya mengantarkan wewangian yang menyayat hati.
Apa yang sebenarnya menyelimuti tempat ini. Suka atau duka? Tapi kurasa satu pun belum ada yang mau mengisi dadaku. Memang secara kebetulan sesuatu bisa mengisi sebuah kekosongan, namun seringkali mudah memudar dan menghilang.
Apakah aku bisa menemukan  hal itu di sini? Atau orang seperti aku hanya pantas untuk kembali berangan dalam delusi yang sempit? Inilah ketakutan terbesarku. Apalagi aku baru sadar jika kota ini sepertinya tak lagi menyisakan ruang untukku. Lebih baikkah jika aku menghilang saja?
Aku rasa siapa saja bisa menghilang dengan mudah di sini. Bahkan hanya dengan menatap langit-langit yang putih dan jangan memikirkan apapun, sedikitpun. Hanya bayangkanlah ruang yang putih, benar-benar putih dan lambat laun kau akan menghilang. Tanpa sakit, tanpa lara. Aku tidak menyebutnya mati, karena setiap jiwa takkan pernah bisa mati, namun hanya meninggalkan raga, dan hilang dari dunia ini. Yang terkadang dapat pula kembali, menjelma sebagai kenangan. Atau mungkin menjadi  sekuntum bunga kaca piring di sana itu, agar tetap bisa tinggal di tempat ini, merindukan udara di sini.
Kursi roda ini terus menggelinding mengantar perjalananku. Udara malam pelan-pelan mengalir. Semak-semak dan korden yang menyanding setiap jendela pun bergoyang. Menimbulkan suara yang sendu. Lorong-lorong sejenak menjadi senyap dan bunga-bunga tampak berbalut embun. Mungkinkah mereka sedang berdoa untuk setiap duka di sini?
Akhirnya aku mengajukan pertanyaan yang dahulu pernah kutanyakan pada seorang petugas di stasiun. Suster itu tentu saja terkejut mendengar aku bicara. Apalagi dengan pertanyaan seperti itu.
“Kau harus percaya, jika ingin menemukannya,” jawabnya sambil tersenyum, setelah lepas keheranannya. Kata-katanya berikutnya tak kudengar lagi begitu terdengar langkah seseorang mendekat. Ada yang menarikku untuk sekedar menoleh siapa itu. Dia datang!
 Dia yang kemarin ke sini menyibak korden sambil membawa beberapa roti dan jajanan manis untukku. Dia yang menungguku berjam-jam demi mencemaskan keadaanku yang lemah waktu itu. Apakah kau tak menyadari kalau senyumku hanyalah tersimpul ketika kau tiba di sini? Sadarkah kau kalau mataku selama ini hanya menatap langit-langit berwarna putih demi menanti raut wajahmu yang biasa muncul dari balik korden itu?
            Aku menatap matamu lekat-lekat sambil membalas senyum indahmu. Andai saja kau tahu, semalam, saat semuanya tenggelam dalam sepi dan mimpi, aku turun dari ranjang besi itu, kuangkat salah satu kakinya, dan kuhujamkan keras-keras tepat ke pergelangan kakiku. Mungkin sedikit sakit, tapi tak apa jika dengan begitu aku bisa terus bertemu denganmu di sini.
            Oh, tahukah kau? Mungkinkah bola mataku termangu melihat dirimu di jalanan waktu itu  hingga kakiku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri? Atau kau juga sengaja menabrakku, agar kau bisa senantiasa menjengukku di sini? Tunggu, apa kau juga punya kekasih di luar sana? Kau tak usah takut, dia pasti mengerti. Dia pasti tahu aku mencintaimu. Aku bahkan tak mengenal cinta itu sendiri, seperti orang lain, juga mungkin kekasihmu. Tanpa benih, tanpa alasan. Yang ada hanya kau. Hanya kau.
Angin terasa hangat. Mungkin tak apa aku selamanya di sini. Kutemukan rasa itu hanya di sini,  tempat dimana suka dan duka, serta warna putih selalu terjalin indah.
***

Silakan kritik dan sarannya :) alhamdulillah, walau saya rasa ini cerita yang gak jelas (mana ada suster ngajak pasiennya jalan-jalan di malam hari, gak tambah kedinginan?) dapat nomor 13 dalam lomba penulis muda UKM Penulis UM tahun 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar