Alhamdulillah, setelah melalui beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk menulis suatu blog. Semoga dengan blog ini saya bisa menyalurkan
Putih
Aku masih di sini. Terbaring tak berdaya di atas tempat
tidur yang dikelilingi korden berwarna putih bersih. Memperhatikan setiap tetes
cairan yang entah terbuat dari apa, lamat-lamat mengalir melewati selang kecil menuju
ke pembuluh di pergelangan tanganku. Tak tahu pula untuk apa cairan ini dimasukkan
ke dalam tubuhku. Apakah memang luka di kakiku ini mereka anggap terlalu parah
atau sebab aku hanya diam ketika para suster itu menawari aku makan.
Dan setiap tetesan di kantung kecil itu seperti meneteskan
pula rasa yang terkadang membuat mataku mengawang sejenak. Dan hal ini terus
saja terjadi. Entah di saat aku sendirian atau ketika suster yang menatapku iba
itu menemaniku di sini sambil menanyakan hal-hal yang sama sekali tak
menghiburku.
Seseorang menyingkap korden. Suster itu datang lagi. Tapi
aku tak peduli. Apa yang sebenarnya kini kupedulikan pun sepertinya tak ada,
tak pasti lebih tepatnya. Tidak seperti
biasa, dia tak mengajakku bicara. Tangannya yang lembut hanya membelai rambutku
yang terurai berantakan sembari tersenyum. Mungkin aku seharusnya berterima
kasih padanya, sebab dia yang selalu merawatku di sini.
Tiba-tiba
seorang dokter masuk ke kamarku. Dari suaranya kukira dia bukanlah dokter yang
pertama kali mengobatiku kemarin.
“Dia masih tak mau makan,” kata suster itu.
“Kau tahu kejadiannya seperti apa?” tanya dokter.
“Seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor yang
menabraknya. Menurut orang-orang, gadis ini tiba-tiba menyeberang tanpa melihat
kondisi jalanan. Kemarin lusa, menurut pemeriksaan kakinya hanya memar dan
terjadi sedikit pendarahan. Tapi aneh, tadi pagi baru ditemukan kalau
pergelangan kakinya retak,” jawab suster.”Sejak tersadar di sini dia hanya
berbaring dan tak mau bicara. Sehingga orang tua atau kerabatnya tak ada yang
bisa kami hubungi.”
“Apa ada indikasi cidera otak?”
“Tidak. Mungkin hanya gangguan mental. Aku pun sudah
mencoba mengajaknya bicara berulang kali. Tapi dia selalu diam. ”
Terdengar dokter muda itu menghela nafas, lantas
meninggalkan kamarku, kamar kami lebih tepatnya. Tak hanya aku yang terkulai
lemah di atas ranjang beroda di ruangan ini. Mengingat langit-langit yang
seringkali kupandang begitu luas,
mungkin ada tujuh atau sepuluh pasien di sini. Semuanya, dengan ranjang yang putih,
selimut putih, dan korden yang putih pula.
Ya,
semuanya bermula ketika aku tiba di kota ini. Aku
hanyalah gadis biasa. Hidupku pun sehari-hari hanya dipenuhi hal-hal yang biasa
dilakukan seorang perempuan
pada umumnya. Terbelenggu oleh nilai dan norma yang aku tahu diciptakan manusia
hanya untuk menyalahkan orang yang tidak mereka sukai! Bahkan mereka sendiri sebenarnya telah melanggarnya
pula! Oleh karena itu, setiap kali mereka mengajariku tentang nilai dan norma
aku anggap itu hanya sebuah sandiwara yang menjijikkan. Sebab
itulah aku datang ke kota ini, untuk mencari satu hal, sekaligus membebaskan
diri dari banyak hal.
***
Suara kereta api bergema di langit, setelah beberapa
menit aku turun di stasiun ini.
“Apakah
aku bisa menemukannya di sini, Pak?” tanyaku. Petugas stasiun yang menjaga
pintu keluar itu sejenak heran mendengar pertanyaanku. Tapi setelah
kuceritakan, dia tertawa kecil.
“Kau bisa menemukannya dimana saja, apalagi di kota ini,”
dia berkelakar.
“Terima kasih, Pak,” aku tersenyum puas sambil mengungkapkan
terima kasih banyak-banyak ke bapak berkumis baplang itu.
Aku
segera berlari keluar stasiun. Sekilas kutatap langit yang indah dengan
awan-awan gembul yang terlihat diam, walau aku tahu sebenarnya sedang berarak
perlahan. Jalan raya begitu ramai. Dan berbagai bangunan dari kios hingga
gedung bertingkat terlihat berjejal di sana-sini. Akhirnya aku melewati batas
yang selama ini membatasi hidupku dari luasnya dunia!
Kutarik
nafasku dalam-dalam. Ada bau harum yang menarik hidungku. Aku berhenti dan menatap
sekitar. Ada penjual harum manis, gumpalan kapas berwarna merah jambu yang
terasa legit jika kau menggigitnya. Penjualnya sedikit kurus, pakaiannya tampak
kumal. Aku berjalan ke arah lain, menarik nafas kembali. Ada bau harum tercium lagi.
Ternyata berasal dari seorang gadis yang kebetulan lewat di hadapanku. Kemanakah
ia akan pergi di sore ini dengan baju modis seperti itu? Apakah menemui
seseorang?
Sebuah
bau lagi-lagi lewat di hidungku. Tapi bau ini begitu sengak dan tak enak. Bau
asap kendaraan bercampur dengan debu udara rupanya. Mungkin bau ini yang
menyebabkan tukang parkir di sana itu selalu memakai masker setiap saat.
Mungkin pula bau ini yang membuat gadis berbaju modis berpikir harus memakai
wewangian banyak-banyak sebelum dia keluar.
Aku turun dari trotoar hendak menyeberang jalan. Dan
ketika ada sebuah benda keras yang menghantam tubuhku semuanya menjadi gelap.
***
Lampu dinyalakan, pertanda malam tiba. Kugerakkan bola mataku,
kusadari salah satu ranjang di depanku telah sepi. Kosong. Tak ada pasien
berikut kerabatnya lagi di sana seperti kemarin. Mungkin sudah sembuh, diperbolehkan
pulang. Senangkah ia sudah bisa meninggalkan ruangan serba putih ini? Atau
mungkin, dia sudah menghilang? Jika ya, senangkah dia di alam sana?
“Kau tak ingin jalan-jalan keluar?” suster itu muncul dengan sebuah kursi
roda. Seperti biasa aku diam. Melihatku dia hanya mendekat lantas mengelus kaki kiriku yang terbalut benda keras berwarna putih.
“Mau
kan?“ katanya lagi.
Perlahan
dia memapah tubuhku, seolah aku telah mengangguk, lalu mendudukkanku di kursi
roda. Aneh, untuk seorang
suster mengajak pasiennya jalan-jalan di antara dinginnya malam. Suster
itu membawaku keluar ruangan dan mengantarku berikut infusku menyusuri lorong mengelilingi
taman luas di tengah rumah sakit.
Kuperhatikan taman berlapiskan rumput yang dihiasi
berbagai semak dan perdu itu. Disana-sini
tumbuh bunga kaca piring yang sedang bermekaran layaknya mawar. Di
tengahnya ada sebuah air mancur kecil yang airnya jernih berkilat-kilat. Suara
percikannya beradu dengan bunyi detik jam dinding entah dari mana. Selebihnya
sepi, meski sebenarnya penuh hiruk-pikuk. Di pojok kantin sana beberapa pegawai
rumah sakit sedang bercakap-cakap ditemani kopinya masing-masing. Ada juga
beberapa keluarga yang membeber karpet kecil di berbagai sisi lorong. Sebagian tampak bersenda gurau.
Padahal bukankah mereka sedang
menunggui saudara mereka yang tengah merasakan
sakit di sini?
Di
sebuah kursi panjang, ada dua orang, laki perempuan. Barangkali kebetulan
bertemu di sini. Atau malah sengaja memilih tempat ini untuk memadu kasih? Tak
tahu. Bunga kaca piring yang biasanya
tak mengudarkan harum hanya
mengantarkan wewangian yang menyayat hati.
Apa
yang sebenarnya menyelimuti tempat ini. Suka atau duka? Tapi kurasa satu pun
belum ada yang mau mengisi dadaku. Memang secara kebetulan sesuatu bisa mengisi
sebuah kekosongan, namun seringkali mudah memudar dan menghilang.
Apakah
aku bisa menemukan hal itu di sini? Atau
orang seperti
aku hanya pantas untuk kembali berangan dalam delusi yang sempit? Inilah
ketakutan terbesarku. Apalagi aku baru sadar jika kota ini sepertinya tak lagi
menyisakan ruang untukku. Lebih baikkah jika aku menghilang saja?
Aku
rasa siapa saja bisa menghilang dengan mudah di sini. Bahkan hanya dengan
menatap langit-langit yang putih dan jangan memikirkan apapun, sedikitpun.
Hanya bayangkanlah ruang yang putih, benar-benar putih dan lambat laun kau akan
menghilang. Tanpa sakit, tanpa lara. Aku tidak menyebutnya mati, karena setiap
jiwa takkan pernah bisa mati, namun hanya meninggalkan raga, dan hilang dari dunia
ini. Yang terkadang dapat pula kembali, menjelma sebagai kenangan. Atau mungkin
menjadi sekuntum bunga kaca piring di sana itu, agar tetap bisa tinggal
di tempat ini, merindukan udara
di sini.
Kursi
roda ini terus menggelinding mengantar perjalananku. Udara malam pelan-pelan mengalir.
Semak-semak dan korden yang menyanding setiap jendela pun bergoyang.
Menimbulkan suara yang sendu. Lorong-lorong sejenak menjadi senyap dan bunga-bunga
tampak berbalut embun. Mungkinkah mereka sedang berdoa untuk setiap duka di sini?
Akhirnya
aku mengajukan pertanyaan yang dahulu pernah kutanyakan pada seorang petugas di stasiun. Suster itu tentu saja terkejut mendengar
aku bicara. Apalagi dengan pertanyaan seperti itu.
“Kau
harus percaya, jika ingin menemukannya,” jawabnya sambil tersenyum, setelah
lepas keheranannya. Kata-katanya berikutnya tak kudengar lagi begitu terdengar
langkah seseorang mendekat. Ada yang menarikku untuk sekedar menoleh siapa itu.
Dia datang!
Dia yang kemarin ke sini menyibak korden sambil
membawa beberapa roti dan jajanan manis untukku. Dia yang menungguku berjam-jam
demi mencemaskan keadaanku yang lemah waktu itu. Apakah kau tak menyadari kalau
senyumku hanyalah
tersimpul
ketika kau tiba di sini? Sadarkah kau kalau mataku selama ini hanya menatap langit-langit
berwarna putih demi menanti raut wajahmu yang biasa muncul dari balik korden itu?
Aku
menatap matamu lekat-lekat sambil membalas senyum indahmu. Andai saja kau tahu,
semalam, saat semuanya tenggelam dalam sepi dan mimpi, aku turun dari ranjang
besi itu, kuangkat salah satu kakinya, dan kuhujamkan keras-keras tepat ke
pergelangan kakiku. Mungkin sedikit sakit, tapi tak apa jika dengan begitu aku
bisa terus bertemu denganmu di sini.
Oh, tahukah kau? Mungkinkah bola mataku termangu melihat dirimu di jalanan
waktu itu hingga kakiku tak sanggup
bergerak dari tempatku berdiri? Atau kau juga sengaja menabrakku, agar kau bisa
senantiasa menjengukku di sini? Tunggu,
apa kau juga punya kekasih di luar sana? Kau tak usah takut, dia pasti mengerti.
Dia pasti tahu aku mencintaimu. Aku bahkan tak mengenal cinta itu sendiri,
seperti orang lain, juga mungkin kekasihmu. Tanpa benih, tanpa alasan. Yang ada
hanya kau. Hanya kau.
Angin terasa hangat. Mungkin tak apa aku
selamanya di sini. Kutemukan rasa itu hanya di sini, tempat dimana suka dan duka, serta warna putih
selalu terjalin indah.
***
Silakan kritik dan sarannya :) alhamdulillah, walau saya rasa ini cerita yang gak jelas (mana ada suster ngajak pasiennya jalan-jalan di malam hari, gak tambah kedinginan?) dapat nomor 13 dalam lomba penulis muda UKM Penulis UM tahun 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar