Sabtu, 14 Februari 2015

Kali ini saya akan memposting salah satu cerpen yang pertama kali saya tulis dan saya ikutsertakan dalam Festival Sastra KMSI UGM 2013 yang (kalau gak salah) bertemakan "Kebanggaan Indonesia", setelah minta edit dan pendapat sana-sini kepada salah satu sahabat dan juga Guru Bahasa Indonesia saya, Alhamdulillah jadilah cerpen saya ini. Oke, silakan membaca :)



Mimpi-Mimpi Sakri



            Benar! Semalam aku bertemu dengan Ibu Pertiwi! seru Sakri.
            Ah, itu cuma mimpimu, Kri! sangkal Wasidi, temannya.
         Bukan, itu bukan mimpi! Ibu selalu datang malam-malam ke sungai kecil di belakang rumahku. Dia akan bercerita banyak hal kepadaku...
            Kamu hanya mengigau pasti... canda Pamannya.
            Begitulah setiap pagi. Sakri, si bocah pencari keong berkulit hitam, akan bercerita kepada setiap orang kampung Karimayan yang ditemuinya. Mulai dari teman sebayanya hingga orang orang tua yang kebetulan ngopi di warung neneknya. Ceritanya selalu sama, mengenai Ibu Pertiwi.
Kampung Karimayan agak terletak di pedalaman hutan rimba. Dikelilingi bukit bukit hijau yang setiap pagi menguning tersapu cahaya matahari. Pohon-pohon beragam jenisnya tumbuh tinggi tersebar di sini. Kemanapun melangkah, jalan setapak selalu tertutupi oleh daun daun pepohonan yang telah gugur. Sangat alami.
Selama ini Sakri hanya diasuh oleh sang Nenek yang membuka warung kopi di depan rumah. Bapaknya pergi merantau entah kemana. Ibunya sudah meninggal sewaktu Sakri masih kecil. Membuatnya terkadang penasaran, membayangkan bagaimana raut wajah bapak dan  ibunya.
 Bersama teman-temannya dia selalu mencari keong di sawah, parit maupun sungai. Kulitnya tampak lebih hitam dibandingkan anak anak lain. Hampir sehitam rambutnya. Barangkali karena sinar matahari begitu kejam membakar kulitnya. Mengingat dia selalu pulang lebih sore demi mengumpulkan keong lebih banyak untuk dijual. Bajunya selalu lusuh, kecoklatan terciprat lumpur setiap hari.
            Meski ceritanya selalu sama setiap pagi, tapi di dalam ceritanya Ibu Pertiwi selalu bercerita hal yang baru setiap malam. Kiranya itulah yang membuat Sakri antusias untuk menceritakannya. Neneknya hanya tersenyum, matanya berkaca-kaca setiap kali melihat Sakri seperti itu.
 Tadi malam Ibu bercerita tentang kerajaan-kerajaan di zaman dulu. Ada Majapahit, Sriwijaya dan banyak lagi, aku lupa namanya. Kata Ibu, Majapahit adalah kerajaan yang paling besar... cerita Sakri pagi ini di warung kopi.
            Seperti biasa, mereka tidak menghiraukannya sembari menghisap rokok dalam-dalam. Tahu kalau dirinya diacuhkan, ceritanya akan semakin menjadi-jadi.
            Kalian tahu, Ibu juga bilang kalau orang zaman dulu merawat alam mereka dengan baik, tidak seperti zaman sekarang. Zaman sekarang, semua orang sudah tak ingat lagi padanya. Aku kurang paham maksudnya, tapi Ibu sangat sedih ketika menceritakan hal itu. celotehnya polos.
            Orang-orang yang merasa risih terkadang  memilih meninggalkan warung. Jika sudah begitu, Sakri akan pergi ke sawah, mencari keong. Berharap bertemu teman-temannya yang kiranya mau menjadi pendengar setiap celotehannya.
            Ibu selalu berpesan kepadaku. Jika aku sudah besar nanti aku harus menjadi pemimpin negeri ini.
            Apa benar? tanya Wasidi.
            Seperti apa sih Ibu Pertiwi itu? tanya anak yang lain.
            Yang jelas Ibu sangat anggun. Wajahnya seperti bersinar memancarkan kedamaian. Sentuhannya lembut dan hangat. Aku senang sekali ketika Ibu bercerita kepadaku. cerita Sakri bangga.
            Bukannya itu cuma bualan Sakri? Dia mungkin hanya kesepian, Sakri kan tak punya Ibu... seru salah seorang anak kepada yang lain.
            Aku tidak bohong! Ibu mengajariku untuk tidak berbohong.
            Jadi, kau akan menjadi pemimpin bangsa ini begitu? tanya Wasidi.
            Ya. Aku akan menjadi salah satu pemimpin negeri ini saat aku sudah besar nanti! Aku akan menjadi pemimpin yang membanggakan Ibu dan akan membuatnya tidak sedih lagi! janji Sakri dengan semangat.
***
            Sudah 20 tahun sejak Sakri, si penceloteh berkulit hitam, diangkat anak oleh seorang pengusaha dari ibukota. Tentu saja, Sakri harus meninggalkan Nenek beserta kampung halamannya. Disini Sakri mengenal sekolah, hal yang tidak pernah ditemuinya di Karimayan. Orang tua baru Sakri menyekolahkan Sakri hingga ke bangku kuliah. Setelah lulus, Sakri bekerja di sebuah kementrian. Karirnya terus menanjak hingga pemuda ini berhasil menjadi salah satu pimpinan di kementrian itu. Kulitnya kini tak lagi hitam. Kemana-mana dia berteduh di dalam mobil sedan berplat merah.
Tak lupa akan ranahnya, kali ini Sakri berniat mengunjungi kampungnya di seberang. Dia ambil cuti beberapa hari. Setelah menempuh perjalanan selama semalam dia sampai di Karimayan.
Kampungnya tak banyak berubah. Dinding dari anyaman bambu dan atap rumbia masih setia menyusun rumahrumah penduduk. Angin dingin yang mengalir perlahan masih melekat dalam ingatannya. Bukitbukit yang curam pun masih tegak berdiri membentengi kampung Karimayan dari segala penjuru.
            Tiga hari sudah. Pagi ini Sakri terlihat mengopi di sebuah warung yang agak ramai di muka perkampungan. Wasidi juga di situ. Dia senang dapat bertemu kawan lamanya kembali. Selama tiga hari ini pula dialah yang selalu menemani Sakri. Tapi tak seperti kemarin-kemarin. Sakri terlihat memijat keningnya beberapa kali sambil memejamkan mata. Kopinya sudah dingin, enggan untuk diminum.
            Dua malam yang lalu aku bertemu dengan Ibu... katanya sambil menghela nafas. Orang orang tak terkejut Sakri masih saja bercerita seperti dulu. Tapi, kali ini mereka mendengarkannya. Tentu saja untuk menghormati Sakri.
            Matanya sembab. Entah kenapa. Dia diam, tak menjawab sapaanku. Aku berniat memberitahunya kalau aku sekarang sudah menjadi salah seorang pemimpin negeri ini. Tapi, aku lihat dia malah berurai air mata. ceritanya sedih.
            Aku tak tahu harus berbuat apa. Seakan akulah orang yang membuatnya sedih. Ingin rasanya aku cepat cepat pergi. Meninggalkan dirinya di sana sendirian. Aku tahu, dia menatapku saat aku berbalik. Dia sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.
Wajah Ibu yang sedih selalu membayang dibenakku. Akhirnya semalam aku mencoba menemuinya lagi. Tapi dia tak kunjung datang, walaupun aku menunggunya hingga fajar. Mata Sakri mengawang-awang.
Orang orang hanya diam.
***
Langkahnya pelan. Samarsamar dilihatnya bayangan seorang perempuan yang bercahaya di tepi sungai. Dimantapkannya langkah kaki untuk menghampirinya. Berharap kali ini Ibu mau bercerita kecil demi membuat hatinya lega. Tapi seketika bayangan itu memudar dan cahayanya lenyap.
Tiba-tiba sebuah kata begitu saja menggema di dalam kepalanya. Tak jelas kedengarannya. Suara itu begitu halus tapi seperti sarat makna. Lembut berwibawa. Dari manakah suara itu berasal? Tak dipikirkannya suara itu ketika kembali melihat cahaya yang berkilauan di seberang sungai. Sakri yakin kalau sang Ibu mempunyai maksud yang hendak disampaikan.
Tanpa pikir panjang diseberanginya sungai itu, tak peduli dengan celana panjang yang lupa dicincingkannya. Dilangkahinya batu-batu dan cadas di dasar sungai. Setengah berlari. Sesekali tubuhnya limbung tak kuat menahan arus air yang semakin deras di tengah sungai. Bulan ini musim panas, jadi air sungai tak begitu dalam, hanya sebatas paha.
Dia terlihat kesulitan. Padahal dulu sewaktu kecil dia sering menyeberangi sungai ini sekedar bermain bersama teman temannya. Tiba tiba dia terpeleset. Tidak sengaja menginjak sebuah batu yang licin. Tak sampai jatuh, tapi cukup membuat sebagian besar tubuhnya basah.
Langkahnya ia hentakkan ketika berhasil menyeberangi sungai itu. Tapi cahaya itu telah lenyap kembali. Nafasnya terengah, jantungnya berdebar. Matanya menatap sekitar. Dilihatnya setitik cahaya di puncak bukit, di balik pohon-pohon tinggi yang berbalut kabut. Segera dirinya berlari ke arah sana. Berharap tak kehilangan cahaya itu lagi. Malam ini adalah kesempatan terakhirnya. Besok dia sudah harus kembali ke ibukota.
Sakri dengan susah payah menaiki bukit yang curam. Tak dipedulikan ranting- ranting yang menghalangi jalannya. Duri-duri beberapa kali menggores tubuhnya. Kabut yang putih semakin tebal, udara dingin. Dia memperlambat larinya. Lebih berhati hati, karena jarak pandangnya semakin terbatas. Menarik nafas, udara mulai menipis sepertinya.
Kenapa kau mengecewakan Ibu? Suara itu kembali terngiang begitu saja di kepalanya. Dari mana suara ini berasal? Ia yakin bukan dari sekelilingnya. Bukan telinganya yang menangkapnya, tapi batinnya! Suara itu datar namun terdengar sedih. Apakah maksud semua ini, pikirnya.
Angin yang dingin tibatiba menerpa tubuhnya yang sebagian basah kuyup. Semakin membeku. Kabut perlahanlahan memudar. Pandangannya semakin jelas. Tapi tampaknya dia kehilangan cahaya itu lagi.
Sakri menemukan sesuatu yang ganjil. Tidak seperti saat ia mendaki bukit tadi. Suasana begitu terang, luas, tidak seperti rimbunnya hutan. Kabut akhirnya lenyap sempurna. Dia terkejut. Semuanya habis! Dilihatnya lebih seksama daerah-daerah di sekitar bukit tempatnya berdiri. Juga habis! Bagaimana bisa?
Sakri terjaga dari tidurnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia menatap ke sekitar tempat tidur. Betapa herannya dia menemukan dirinya di sini.
Dia termangu.
***
Inilah Kampung Karimayan sekarang. Timbunan tanah kecoklatan tercecer di sana-sini. Sesekali mencuatkan batang kayu dan dinding bambu yang terbelah. Pohon-pohon terkubur. Sebagian yang masih selamat mulai mengering, hendak mati juga rupanya. Terbentuk sebuah padang luas yang menyayat hati. Mungkin juga kuburan massal.
Para relawan sudah pergi dua minggu yang lalu. Hanya perempuan pencari kayu yang masih sering datang memunguti sisa puing-puing rumah demi menghidupkan tungku. Namun, beberapa hari ini terlihat seorang pemuda selalu duduk termenung di sana. Duduk di tepi sebuah tebing curam yang nampaknya hendak longsor pula.
Sakri. Kini kulitnya menghitam kembali, persis seperti masa kecilnya. Pikirannya kosong. Ia tak lagi ingat kalau sebenarnya dialah penyebab semua ini. Beberapa tahun yang lalu, dia menerima suap dari seorang investor untuk memperoleh izin pembukaan hutan yang sebenarnya dijadikan hutan lindung .
Seekor burung berbulu coklat keemasan dengan gagahnya terbang di atas langit. Pandangannya tajam. Mencari pohon tempatnya bersarang yang sudah roboh mungkin. Atau malah mencari tempat mengadu?
            Hanya menunggu dalam diam. Pikiran Sakri kini hanya satu. Meminta maaf kepada Ibu Pertiwi dan bertanya bagaimana cara menjadi pemimpin kebanggaannya.
***

Alhamdulillah, cerpen ini dapat juara kedua kategori pelajar, meski seperti sebelumnya saya menganggap cerpen ini aneh dan kurang jelas -_-. Oke, silakan kritik dan saran :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar