Mimpi-Mimpi
Sakri
“Benar! Semalam aku bertemu
dengan Ibu Pertiwi!” seru Sakri.
“Ah, itu cuma mimpimu, Kri!” sangkal
Wasidi, temannya.
“Bukan, itu bukan mimpi! Ibu
selalu datang malam-malam ke sungai kecil di belakang rumahku. Dia akan bercerita banyak hal kepadaku...”
“Kamu hanya mengigau pasti...” canda Pamannya.
Begitulah setiap pagi. Sakri, si bocah pencari keong berkulit
hitam, akan bercerita kepada setiap orang kampung Karimayan yang ditemuinya. Mulai
dari teman sebayanya hingga orang – orang tua yang kebetulan ngopi di warung neneknya. Ceritanya selalu sama, mengenai Ibu Pertiwi.
Kampung Karimayan agak terletak
di pedalaman hutan rimba. Dikelilingi bukit – bukit hijau yang setiap pagi
menguning tersapu cahaya matahari. Pohon-pohon beragam jenisnya tumbuh tinggi tersebar di sini. Kemanapun melangkah, jalan setapak selalu tertutupi
oleh daun – daun pepohonan yang telah gugur. Sangat alami.
Selama ini Sakri hanya diasuh oleh sang Nenek yang membuka warung kopi di
depan rumah. Bapaknya pergi merantau entah
kemana. Ibunya sudah meninggal sewaktu Sakri masih kecil. Membuatnya terkadang
penasaran, membayangkan bagaimana raut wajah bapak dan ibunya.
Bersama teman-temannya dia selalu mencari keong di sawah, parit maupun
sungai. Kulitnya tampak lebih hitam dibandingkan anak – anak lain. Hampir sehitam rambutnya. Barangkali
karena sinar matahari begitu kejam membakar kulitnya. Mengingat dia selalu
pulang lebih sore demi mengumpulkan keong lebih
banyak untuk dijual. Bajunya selalu lusuh,
kecoklatan terciprat lumpur setiap hari.
Meski ceritanya selalu sama setiap pagi, tapi – di dalam ceritanya – Ibu Pertiwi selalu
bercerita hal yang baru setiap malam. Kiranya itulah yang membuat
Sakri antusias untuk menceritakannya. Neneknya hanya tersenyum,
matanya berkaca-kaca setiap kali melihat Sakri seperti itu.
“Tadi malam Ibu bercerita
tentang kerajaan-kerajaan di zaman dulu. Ada Majapahit, Sriwijaya dan banyak lagi, aku lupa namanya. Kata Ibu, Majapahit
adalah kerajaan yang paling besar...” cerita Sakri pagi ini di warung kopi.
Seperti biasa, mereka tidak
menghiraukannya sembari menghisap rokok dalam-dalam. Tahu kalau dirinya
diacuhkan, ceritanya akan semakin menjadi-jadi.
“Kalian tahu, Ibu juga bilang kalau orang
zaman dulu merawat alam mereka dengan baik, tidak seperti zaman sekarang. Zaman
sekarang, semua orang sudah tak ingat lagi padanya. Aku kurang paham maksudnya,
tapi Ibu sangat sedih ketika menceritakan hal itu. “ celotehnya polos.
Orang-orang yang merasa risih
terkadang memilih meninggalkan warung.
Jika sudah begitu, Sakri akan pergi ke sawah, mencari keong. Berharap bertemu teman-temannya yang kiranya mau menjadi pendengar
setiap celotehannya.
“Ibu selalu berpesan kepadaku.
Jika aku sudah besar nanti aku harus menjadi pemimpin negeri ini.”
“Apa benar?” tanya
Wasidi.
“Seperti
apa sih Ibu Pertiwi itu?” tanya
anak yang lain.
“Yang jelas Ibu sangat anggun.
Wajahnya seperti bersinar memancarkan kedamaian. Sentuhannya lembut dan hangat.
Aku senang sekali ketika Ibu bercerita kepadaku.” cerita Sakri bangga.
“Bukannya itu cuma bualan
Sakri? Dia mungkin hanya kesepian, Sakri kan tak punya Ibu...” seru salah seorang anak kepada yang lain.
“Aku
tidak bohong! Ibu
mengajariku untuk tidak berbohong.”
“Jadi, kau akan menjadi pemimpin bangsa ini begitu?” tanya Wasidi.
“Ya. Aku akan
menjadi salah satu pemimpin negeri ini saat aku sudah besar nanti! Aku akan
menjadi pemimpin yang membanggakan Ibu dan akan membuatnya tidak sedih lagi!” janji
Sakri dengan semangat.
***
Sudah 20 tahun sejak Sakri, si
penceloteh berkulit hitam, diangkat anak oleh seorang pengusaha dari ibukota. Tentu saja, Sakri harus meninggalkan
Nenek beserta kampung halamannya. Disini Sakri mengenal sekolah, hal yang tidak pernah ditemuinya di
Karimayan. Orang
tua baru Sakri menyekolahkan Sakri hingga ke bangku kuliah.
Setelah lulus, Sakri
bekerja di sebuah kementrian. Karirnya terus menanjak hingga pemuda ini berhasil
menjadi salah satu pimpinan di kementrian itu. Kulitnya kini tak lagi hitam.
Kemana-mana dia berteduh di dalam mobil sedan berplat merah.
Tak lupa akan ranahnya, kali ini Sakri berniat mengunjungi
kampungnya di seberang. Dia ambil cuti beberapa hari. Setelah menempuh perjalanan selama semalam dia sampai di
Karimayan.
Kampungnya tak banyak berubah. Dinding dari anyaman bambu
dan atap rumbia masih setia menyusun rumah–rumah penduduk. Angin dingin
yang mengalir perlahan masih
melekat dalam ingatannya. Bukit–bukit yang curam pun masih tegak berdiri
membentengi kampung Karimayan dari segala penjuru.
Tiga hari sudah. Pagi ini Sakri terlihat mengopi
di sebuah warung yang agak ramai di muka perkampungan. Wasidi
juga di situ. Dia senang dapat bertemu kawan lamanya kembali. Selama tiga hari
ini pula dialah yang selalu menemani Sakri. Tapi tak seperti kemarin-kemarin. Sakri
terlihat memijat keningnya beberapa kali sambil memejamkan mata. Kopinya sudah
dingin, enggan untuk
diminum.
“Dua malam yang lalu aku
bertemu dengan Ibu...” katanya
sambil menghela nafas. Orang – orang tak terkejut Sakri masih saja bercerita
seperti dulu. Tapi, kali ini mereka mendengarkannya. Tentu saja untuk
menghormati Sakri.
“Matanya sembab. Entah kenapa.
Dia diam, tak menjawab sapaanku. Aku berniat memberitahunya
kalau aku sekarang sudah menjadi salah seorang
pemimpin negeri ini.
Tapi, aku lihat dia malah berurai air mata.” ceritanya sedih.
“Aku tak
tahu harus berbuat apa. Seakan akulah orang
yang membuatnya sedih. Ingin rasanya
aku cepat –
cepat pergi. Meninggalkan dirinya di sana
sendirian. Aku tahu, dia menatapku saat aku berbalik. Dia sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.”
“Wajah
Ibu yang sedih selalu membayang dibenakku. Akhirnya semalam aku mencoba
menemuinya lagi. Tapi dia tak kunjung datang, walaupun aku menunggunya hingga
fajar.”
Mata Sakri mengawang-awang.
Orang – orang hanya diam.
***
Langkahnya pelan. Samar–samar dilihatnya bayangan
seorang perempuan yang bercahaya di tepi sungai. Dimantapkannya langkah kaki
untuk menghampirinya. Berharap kali ini Ibu
mau bercerita kecil demi membuat hatinya lega. Tapi seketika bayangan itu memudar dan
cahayanya lenyap.
Tiba-tiba sebuah kata begitu saja menggema di
dalam kepalanya. Tak jelas kedengarannya. Suara
itu begitu halus tapi seperti sarat makna. Lembut
berwibawa. Dari manakah suara itu berasal? Tak
dipikirkannya suara itu ketika kembali melihat cahaya yang berkilauan di seberang
sungai. Sakri yakin kalau sang Ibu
mempunyai maksud yang hendak disampaikan.
Tanpa pikir panjang diseberanginya sungai itu, tak peduli
dengan celana panjang yang lupa dicincingkannya. Dilangkahinya batu-batu dan
cadas di dasar sungai. Setengah berlari. Sesekali tubuhnya limbung tak kuat
menahan arus air yang semakin deras
di tengah sungai. Bulan ini musim panas, jadi air sungai tak begitu dalam,
hanya sebatas paha.
Dia terlihat kesulitan. Padahal dulu sewaktu kecil dia
sering menyeberangi sungai ini sekedar bermain bersama teman – temannya. Tiba – tiba dia terpeleset. Tidak
sengaja menginjak sebuah batu yang licin. Tak sampai jatuh, tapi cukup membuat
sebagian besar tubuhnya basah.
Langkahnya ia hentakkan ketika berhasil menyeberangi
sungai itu. Tapi cahaya itu telah lenyap kembali. Nafasnya terengah, jantungnya
berdebar. Matanya menatap sekitar.
Dilihatnya setitik cahaya di puncak bukit, di balik pohon-pohon tinggi yang berbalut kabut.
Segera dirinya berlari ke arah sana. Berharap tak kehilangan cahaya itu lagi. Malam ini adalah kesempatan
terakhirnya. Besok dia sudah harus kembali ke ibukota.
Sakri dengan susah payah menaiki bukit yang curam. Tak
dipedulikan ranting- ranting yang menghalangi jalannya. Duri-duri beberapa kali
menggores tubuhnya. Kabut yang putih semakin tebal, udara dingin. Dia
memperlambat larinya. Lebih berhati – hati, karena jarak pandangnya semakin
terbatas. Menarik nafas, udara mulai menipis sepertinya.
“Kenapa
kau mengecewakan Ibu?” Suara itu kembali terngiang
begitu saja di kepalanya. Dari mana suara ini berasal? Ia yakin bukan dari
sekelilingnya. Bukan telinganya yang menangkapnya, tapi batinnya! Suara itu datar namun
terdengar sedih. Apakah maksud semua ini,
pikirnya.
Angin yang dingin tiba–tiba menerpa tubuhnya yang
sebagian basah kuyup. Semakin membeku. Kabut perlahan–lahan memudar. Pandangannya
semakin jelas. Tapi tampaknya
dia kehilangan cahaya itu lagi.
Sakri menemukan sesuatu yang ganjil. Tidak seperti saat ia
mendaki bukit tadi. Suasana begitu terang, luas, tidak seperti rimbunnya hutan.
Kabut akhirnya lenyap sempurna. Dia terkejut. Semuanya habis! Dilihatnya lebih seksama daerah-daerah di sekitar
bukit tempatnya berdiri. Juga habis! Bagaimana bisa?
Sakri terjaga dari tidurnya. Jantungnya masih berdegup
kencang. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia
menatap ke sekitar tempat tidur. Betapa herannya dia menemukan dirinya di sini.
Dia termangu.
***
Inilah Kampung Karimayan sekarang. Timbunan tanah kecoklatan
tercecer di sana-sini. Sesekali mencuatkan batang kayu dan dinding bambu yang terbelah. Pohon-pohon
terkubur. Sebagian yang masih selamat mulai mengering, hendak mati juga
rupanya. Terbentuk
sebuah padang luas yang menyayat hati. Mungkin juga kuburan massal.
Para relawan sudah pergi dua minggu yang lalu. Hanya perempuan
pencari kayu yang masih sering datang memunguti sisa puing-puing rumah demi
menghidupkan tungku. Namun, beberapa hari ini terlihat
seorang pemuda selalu duduk termenung di sana. Duduk di
tepi sebuah tebing curam yang nampaknya hendak longsor pula.
Sakri. Kini kulitnya menghitam kembali, persis seperti
masa kecilnya. Pikirannya kosong. Ia tak lagi ingat kalau sebenarnya dialah penyebab
semua ini. Beberapa tahun yang lalu, dia menerima suap dari seorang investor
untuk memperoleh izin pembukaan hutan yang sebenarnya dijadikan hutan lindung .
Seekor burung berbulu coklat keemasan dengan gagahnya
terbang di atas langit. Pandangannya tajam. Mencari pohon tempatnya bersarang
yang sudah roboh mungkin. Atau malah mencari tempat mengadu?
Hanya menunggu dalam diam. Pikiran
Sakri kini hanya satu. Meminta maaf kepada Ibu Pertiwi dan bertanya bagaimana
cara menjadi pemimpin kebanggaannya.
***
Alhamdulillah, cerpen ini dapat juara kedua kategori pelajar, meski seperti sebelumnya saya menganggap cerpen ini aneh dan kurang jelas -_-. Oke, silakan kritik dan saran :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar